Search HP

SMP Antonius Padua

SMP Santo Antonius Padua telah berdiri 4 tahun yang lalu dan sekarang memasuki tahun ke - lima. Sekolah ini pun telah menamatkan dua angkatan yaitu pada Ujian Nasional (UN) 2015 dan tahun 2016 dan tentu saja angkatan ke - tiga pada tahun 2017. Sekolah yang saat ini di kepalai oleh Gabriel Payong,S.Pd ini telah siap menyelenggarakan Ujian Nasional sendiri setelah dua tahun menggabung UN bersama SMPN 2 Sentani. Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang cukup cepat mengingat pada 20 Mei 2016 sekolah yang dibangun oleh Pastor Jhon Kore,OFM ini telah diakreditasi. Pada tahun 2015 di bawah kepemimpinan Ibu Evie J. Langitan,M.MPd sekolah ini menamatkan angkatan pertamanya melalui Ujian Nasional Tertulis atau Paper Based Test (PBT) , demikian juga pada tahun 2016. Pada penyelenggaraan pertama di tahun 2017 ini sekolah dengan kepanitian UN yang diketuai oleh Ibu Maria Goreti Usboko,S.Pd siap menyelenggarakan dengan model Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Keputusan yang terkesan berani ini memang menuai banyak tanggapan baik itu tanggapan positif maupun yang bersifat pesimis. Namun sekolah yang pembangunannya disponsori penuh oleh Pastor Nico Syukur Dister,OFM terus berupaya mempersiapkan diri untuk mensukseskan UNBK 2017. Dewan guru dan seluruh komponen yang terlibat di sekolah ini telah mantap melayani siswa / siswi di sekolah yang 98% -nya terdiri dari anak - anak Papua. Salah satu komitmen pelayanan sekolah guna mensukseskan UNBK 2017 ialah dengan menyelenggarakan Try Out secara on - line. Kegiatan yang dilangsungkan pada tanggal 12 - 14 Desember 2016 ini dilaksanakan dengan memanfaatkan Lab. Komputer SMA Santo Antonius Padua. Dengan dukungan 25 unit komputer akhirnya 45 peserta Try Out IV UN dapat berjalan dengan baik. Harapan sekolah ialah upaya - upaya persiapan ini dapat lebih memantapkan diri baik secara tekhnis maupun secara mental bagi anak - anak untuk mengikuti UNBK 2017.








SMP Santo Antonius Padua merupakan salah satu sekolah katolik di Kabupaten Jayapura - Papua. Latar belakang berdirinya SMP Santo Antonius Padua ialah masalah pendidikan di Papua. Semua orang tahu bahwa pendidikan di Papua, secara khusus di daerah pedalaman merupakan sebuah masalah yang amat rumit, seperti benang kusut yang susah ditemukan ujung pangkalnya. Dari benang kusut itu terdiri dari sejumlah faktor yang berperan sebagai faktor penyebab makin rusaknya pendidikan di Papua (M Z Wahyudi, 2011) :

  1. Guru seringkali tidak ada di tempat tugas, sering pula tidak melaksanakan tugas mengajar, apalagi mendidik. Tak jarang terjadi guru baru akan mengajar 2 minggu sebelum ujian dimulai. 
  2. Guru mencari kerja sampingan, bahkan beralih profesi, gaji tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Kebutuhan hidup dipenuhi dengan mengambil kredit konsumtif, gaji habis untuk membayar utang. 
  3. Sekolah berpola asrama di pedalaman tidak berjalan karena biaya operasinya tidak ada. 
  4. Murid tidak hadir atau tidak mengikuti pelajaran di sekolah berhari-hari, bahkan berminggu-minggu karena siswa sering ikut orang tua mencari makanan, terlebih siswa tidak hadir sekolah pada saat pesta kematian. 
  5. Sarana belajar, seperti penerangan (listrik) di banyak tempat tidak ada bagi anak yang ingin belajar 
  6. Pendidikan anak usia dini dan Taman Kanak-kanak diabaikan, belum menjadi kebutuhan. Padahal sebuah pendidikan persekolahan yang baik harus dimulai sejak usia dini. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pendidikan persekolahan belum ada pada masyarakat. 
  7. Kurikulum Nasional yang tidak membumi di tanah Papua. Untuk melaksanakan kurikulum itu membutuhkan kreativitas guru yang tinggi. Guru diberi pelatihan tetapi yang dicari adalah berapa uang yang dapat diperoleh, bukan keahlian atau ketrampilan mengajar.
  8. Guru putra daerah kerapkali tidak serajin guru-guru yang berasal dari Jawa. Guru asal Jawa tidak hanya mengajar tetapi mendidik, tidak hanya mendidik di sekolah tetapi juga mendidik masyarakat di kampung-kampung di sekitar sekolah di mana mereka mengajar.

Faktor-faktor penyebab makin rusak dan buruknya pendidikan di pedalaman Papua sudah lama dilihat oleh Pater Prof. Dr. Nico Syukur Dister, OFM, dosen Filsafat dan Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur. Oleh karena itu, ketika mendengar gagasan pater Yohanes Kore, OFM, untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak pedalaman Papua, beliau menyambutnya dengan sangat gembira, dan mengatakan bahwa “sebenarnya saya sudah lama ingin meninggalkan STFT untuk pergi mengajar di pedalaman Papua”. Dengan semangat ini, pater Nico bersama dengan beberapa saudara Fransiskan yang pada tahun 2011 menjadi anggota Kapitel (=Sidang) Kustodi Fransiskus Duta Damai di Tanah Papua, mencoba memperjuangkan gagasan mendirikkan sekolah yang dikelola atau ditangani oleh Fransiskan. Namun dengan mayoritas suara, peserta Kapitel tahun 2011 memutuskan bahwa Kustodi tidak memulai karya persekolahan dalam tiga tahun ke depan.

Frasa, “dalam tiga tahun ke depan” dapat ditafsir atau dimengerti bahwa dalam Kapitel Kustodi berikutnya, yakni tahun 2014, masalah mendirikan sekolah akan dibicarakan. Dengan penafsiran seperti ini, maka pater Yohanes Kore, OFM, sang penggagas pendirian sekolah berinisiatif untuk membicarakanya dengan pater Nico, agar pendirian sekolah yang akan ditangani Fransiskan mendahului Kapitel tahun 2014. Dengan demikian, maka akan lebih mudah dibicarakan dalam Kapitel 2014. Oleh karena itu, pada tanggal 13 Januari 2012, di ruang rapat rumah retret Santa Klara Sentani, berkumpul beberapa orang yakni, Pater Nico Syukur Dister, OFM,  Br. Feliks Kalakmabin, OFM,  Pater Stefanus Sabinus, OFM,  Bpk. Thomas Darmadi,  Pater Hendrikus Nahak, OFM, dan Pater Yohanes Kore, OFM.

Rapat tanggal 13 Januari 2012 inilah yang melahirkan rapat-rapat selanjutnya, dengan melibatkan lagi beberapa orang, seperti Bapak Herald Berhitu, Bapak Firmus Takendare, Bapak Yulius Thome, dan beberapa guru lain yang diundang untuk membicarakan usaha pendirian sekolah. Pembicaraan pendirian sekolah oleh Fransiskan, akhirnya terhenti, ketika pimpinan Fransiskan Papua secara tegas mengatakan bahwa Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua terikat pada keputusan Kapitel tersebut di atas. Keputusan pimpinan Kustodi ini tidak menyurutkan semangat para pencinta dan pemerhati pendidikan untuk anak-anak di Papua. Oleh karena itu, disepakati bahwa SMP akan didirikan di bawah Yayasan Putri Kerahiman Papua. Dengan demikian Badan Pengurus Yayasan Putri Kerahiman Papua-lah yang menerbitkan Surat Keputusan pendirian Sekolah Menengah Pertama (SMP) Santo Antonius Padua.
 
Pendirian Sekolah Menengah Pertama oleh Yayasan Putri Kerahiman Papua ini dianggap begitu penting untuk pendidikan bagi masyarakat, sehingga Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura dalam waku sangat singkat memberikan izin operasional penyelenggaraan pendidikan sesuai ketentuan. Atas dasar ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura menerbitkan Surat Keputusan yang bernomor 84/2012 tentang Izin Operasional Sekolah Menengah Pertama Santo Antonius Padua Sentani. Dengan izin ini, maka Badan Pengurus Yayasan Putri Kerahiman Papua mengangkat Bapak Cyrillus Radi A. Md.Pd, sebagai kepala Sekolah Menegah Pertama Santo Antonius Padua, dan Sr. Aniseta Jurida Silalahi, KSFL, sebagai Bendahara Sekolah Menengah Pertama Santo Antonius Padua. Kedua orang ini diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengelola SMP Santo Antonius Padua sesuai dengan visi dan misi dan dengan memperhatikan Anggaran Dasar Yayasan Putri Kerahiman Papua. Oleh karena itu secara resmi, pada tanggal 13 Juni 2012, Yayasan Putri Kerahiman Papua melakukan pemberkatan dan peresmian SMP Santo Antonius Padua.
  

Saat ini SMP St. Antonius Padua telah mempunyai Fasilitas Ujian On Line.

Pada UN 2017, SMP St. Antonius Padua berada pada peringkat ke-19 dari 48 sekokah di Kabupaten Jayapura. Pada ujian pertama, sekolah ini lonjat dari titik nol sampai urutan 25 dari 48 sekolah, tahun kedua ada pada posisi 21, tahun 2017 berada pada posisi 19 Dari 8 SMP yang UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), pada pada urutan ke-6.